by : -Eko June-
Ya, tagline dalam blog dan footnote saya itu memang sederhana tapi ternyata dalem banget artinya. Terima kasih bagi yang telah memberikan apresiasi terhadap kata2 tersebut selama ini. Sejatinya itu bukan kata motivasi baru, bersandingan dengannya adalah hampir mirip pengertiannya seperti : Take Action Miracle Happened, No Action Nothing Happened dll.
Namun yang ingin saya sharing adalah : Anda memang tidak perlu menunggu menjadi hebat dulu baru mulai, justru anda harus mulai dulu baru nanti jadi hebat. Orang2 sukses dan hebat sekarang adalah orang2 yang memulai. Tanpa menunggu agak2 hebat, sedikit hebat, cenderung hebat atau nyerempet hebat :). Tanpa menunggu kondisi ideal digenggaman, baru action. No.
Kenapa saya bilang dalem artinya ?
Karena jika kita memahami dan agak diubah sedikit redaksinya maka akan sesuai dengan kondisi yang kita inginkan dan akan kita lakukan.
Anda Tidak Perlu Seberani Helmy Yahya Untuk Mulai Bicara, Tetapi Anda Harus Mulai Bicara Di Depan Umum Agar Bisa Seberani Helmy Yahya.
Anda Tidak Perlu Sejago Pak Roni Yuzirman Untuk Berbisnis, Tetapi Anda Harus Mulai Berbisnis Agar Bisa Sejago Pak Roni.
Anda Tidak Perlu Sepintar Helvy Tiana Rosa Untuk Mulai Menulis, Tetapi Anda Harus Mulai Menulis Agar Bisa Sepintar Helvy Tiana Rosa.
Anda Tidak Perlu Sefasih Juara MTQ Untuk Mulai Membaca Al-Qur'an, Tetapi Anda Harus Mulai Membaca Al-Qur'an Agar Bisa Sefasih Juara MTQ.
Dan masih banyak lagi.
Dan itu berinti dan berawal pada satu kata : mulai.
Kemudian akan berproses menjadi : bisa karena biasa.
Sampai kemudian berakhir dengan : hebat.
Kenapa seorang pilot pesawat tempur bisa mengendalikan pesawat yang kecepatannya luar biasa itu ya ? Kenapa penerjun payung bisa dengan berani melompat dari ketinggian itu ya ? Kenapa pak Roni bisa sehebat itu ya ?
Karena P T D.
1. Paham
Miliki ilmunya. Pak Roni bisa hebat karena membaca buku, ikut seminar, sharing dengan yang sudah lebih hebat, bersilahturahmi dll. Kita bisa belajar di milis untuk membuka toko kepada yang sudah duluan dan sukses. Bagaimana mencari barang, bagaimana menentukan harga, bagaimana mencari lokasi dll. Disini sedikit hitung2-an dibuat, sedikit loh, klo kebanyakan makin pusing. Belajar - belajar - belajar lalu ...
2. Terlatih
Disinilah kata 'mulai' mengambil makna. Bagaimana mau punya bisnis online klo gak mulai register domain misalnya. Kemudian dilanjutkan dengan mencari barang atau kontak temen yg bisa diajak kerjasama. Ketemu masalah jadi sebuah pembelajaran berharga. Oh gitu toh. Latihan lagi. Evaluasi lagi.
Namanya latihan pasti butuh waktu, konsistensi dan berat.
Proses menjadi orang hebat seperti buah kelapa.
Dipetik dari ketinggian dan dijatuhkan. Gedebuk !.
Kemudian dikupas kulitnya. Kret kret !.
Lalu setelah jadi batok dibelah. Prak !.
Trus di disayat isinya. Sret !.
Setelah itu di parut. Sreset sreset !.
Baru kemudian di peras. Hegh !.
Akhirnya munculah santan putih bersih yang siap digunakan :).
3. Dzikrullah
Setelah dan selama melakukan itu semua, tetap kembalikan kepada Allah SWT. Pasrahkan diri, ikhlaskan hati, do'akan ikhtiar. Hanya kepada-Nya lah kita kembalikan segala urusan.
Alhamdulillah jika kita semua SUDAH MEMULAI :).
Ayoooo belajar dan ayoooo memulai ...
Wassalam.
-Eko June-
Tuesday, March 18, 2008
Anda Tidak Perlu Hebat Untuk Memulai, Tetapi Anda Harus Memulai Untuk Menjadi Hebat
Posted by South2South Film Community at 2:48 AM 0 comments
Wednesday, March 12, 2008
Cara Orang Sunda Menghargai Perempuan (Versi Indonesia)
oleh: nino (unpublished)
Orang sunda kasepuhan terkenal dengan kearifannya dalam mengelola sumberdaya alam. Prinsip pengelolaan, "gunung kayuan, lamping awian, lebak sawahan, datar imahan dan legok balongan" begitu lekat dalam kehidupan mereka.
Prinsip kehidupan lainnya yang mencerminkan kearifan adalah bagaimana kerjasama yang terbina antara umat manusianya, dalam lingkup yang terkecil juga terlihat dalam kehidupan berkeluarga. Seorang pria yang menjadi kepala keluarga akan memerlukan pendamping wanita yang juga kuat dalam menata rumah tangganya, juga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Fungsi kepala keluarga sebagai direktur sebuah perusahaan akan sangat diimbangi oleh peran seorang manager yang gigih yang didapat dari pendampingnya.
Contoh yang paling nyata dari kerjasama yang terbina dapat terlihat dalam pengelolaan sawah dan huma. Seperti diketahui bahwa lambang kemakmuran diibaratkan dengan perumpaan seorang perempuan. Nyai Sri dipercaya sebagai lambang kemakmuran, pilosofi mipit kudu amit, ngala kudu menta, sing kacukcruk walunganana sing kapapay wahanganana, nete taraje nincak hambalan di maknai dengan hati agar hasil panen yang didapat akan berlimpah. Jelas disini posisi perempuan yang begitu tinggi dimata orang sunda. Mereka percaya bila menyengsarakan perempuan, maka hidupnya akan penuh dengan kesengsaraan pula dan akan ditimpa kabendon.
Posisi dalam pemerintahan adat cibedug ada pengaturan fungsi laki-laki dan perempuan, adapun penunjukkan barisan kolot kasepuhan diatur berdasarkan mufakat bersama seluruh warga kasepuhan. Posisi Indung Beurang yang bertugas mengurus orang yang akan melahirkan dan setelah melahirkan, Ngala daun, dan urusan dapur akan diatur oleh perempuan untuk melihat logistik macam apa saja yang dibutuhan dan seberapa besar kebutuhannyaDalam tahapan proses pengelolaan sawah, peran lelaki terlihat dalam hal perencanaan dan pekerjaan besar seperti, mencangkul, membajak dan membuat persemaian, sementara dalam tahap, tandur, ngaberak, ngoyos, babad galeng, mipit, dibuat, ngalantay sampai ngaleuit Untuk pekerjaan ngunjal, dipercayakan dikerjakan oleh laki-laki dilakukan bersama-sama dengan perempuan.
Sambil menunggu panen, sebagian waktu dipakai untuk ngahuma, atau ngala suluh, pada tahapan ngahuma, perempuan memainkan andilnya dalam melakukan pekerjaan nyacar, ngaduruk, ngerukan, ngored, ngaberak, ngarambas dan nyami.
Untuk menikmati hasil pertanian dan huma, perempuan diberi tempat pertama untuk mulai memanfaatkan/mencicipi hasil panen, atau biasa juga disebut nganyaran. Nyacaran dilakukan dengan tujuan, bahwa yang diberi hak sepenuhnya untuk mengatur urusan dapur adalah perempuan.
Posted by South2South Film Community at 9:14 AM 0 comments
Labels: traditional wisdom